Mengenal Exposure Versi Gue

Halo Ketemu lagi sama gw. Sekarang ini gw akan membahas hobi baru gw yang baru tentang fotografi. Mungkin bagi kalian yg udah ngikutin blog ini dari awal bakal tau sama yg gw bahas kemarin. Nah sekarang gw mau membahas lanjutan dari artikel yang lalu. Saat ini gw akan membahas bagian dasar yang benar-benar penting di dalam fotografi yaitu Exposure.

Setiap orang yang menggeluti fotografi sudah lama pasti udah ga asing lagi dengan yang namanya Exposure. Gw juga yakin semua fotografer dari yang baru saja mulai ataupun yang sudah Jago di dunia fotografi tau tentang exposure ini. Bagi kalian yang masih baru-baru mau mulai belajar fotografi mungkin aja belum tau apa itu segitiga exposure.

Inti dari exposure sebenernya adalah Setelan daripada shutter speed, aperture, sama ISO daripada kamera. Biasa sih banyak yang bilang ketiga itu disebut Segitiga Exposure. Kenapa itu menjadi penting? Yah karena ketiga itu yang menjadi dasar daripada hasil yang akan kalian potret. Ketiga settingan tersebut haruslah seimbang biar bisa menghasilkan foto yang baik.

Dalam artikel ini akan di bahas semua yang penting mengenai exposure yaitu ke 3 poin yang gw udah sebutkan tadi. Oke kita mulai dari yang pertama dulu.

segitiga exposure
Sumber Gambar : https://www.slrlounge.com/iso-aperture-shutter-speed-a-cheat-sheet-for-beginners/

Shutter Speed

Oke kita mulai pertama adalah shutter speed. Shutter speed bisa dikatakan seberapa cepat kamera itu mengambil gambar. Nilai satuannya adalah detik. Misalkan kalian setting kamera kalian di shutter speed 1/100, berarti kecepatan kamera dalam pengambilan gambar itu adalah 1/100 detik. Kebanyakan settingan kamera pada umumnya untuk yang paling cepat adalah 1/8000 dan yang paling lama adalah 30 detik. Itu sih pada umumnya yah mungkin ada perbedaan dengan kamera-kamera lain yang punya spesifikasi yang lebih tinggi.

batu pantai long exposure
Contoh foto long exposure

Untuk lebih memahami fungsi daripada shutter speed kita bermain logika. Semakin cepat shutter speed yang kita gunakan, maka cahaya yang masuk ke sensor akan lebih sedikit. Semakin lama shutter speed yang kita gunakan, maka akan semakin banyak cahaya yang masuk.

Mungkin kalian yang udah ikutin blog ini tau gw pernah membahas long exposure yah. Nah peranan penting untuk long exposure adalah shutter speed. Misalkan saja kita mengambil gambar yang bergerak. Kalau kita mau mengambil gambar dengan hasil freeze, maka kalian harus menggunakan shutter speed yang cepat misalkan saja kita katakan 1/300. Tetapi jika kalian mau mengambil gambar agar ombak itu halus seperti kapas, kalian harus menggunakan shutter speed yang lama supaya bisa mendapatkan gambar dengan efek blur pada benda bergerak. Tapi kalian mesti ingat yah untuk mendapatkan gambar yang seperti ini kamera tidak boleh bergerak / harus menggunakan tripod yah.

Untuk secara gw pribadi, Penggunaan shutter speed yang cepat biasanya untuk foto wildlife atau juga foto-foto olah raga. Untuk shutter speed yang lambat biasanya gw foto untuk lanskap atau foto pemandangan. Tapi itu sih masing-masing orang berbeda. Tergantung sukanya kalian bagaimana.  

Mau contoh praktek yang gampang? Kalau kalian punya kipas angin dirumah, coba kalian nyalakan kipas angin kalian. Dengan setting manual, coba kalian mainkan shutter speednya di angka shutter speed yang cepat, lalu kalian foto dengan shutter speed lebih lambat. Kalian pasti akan lihat perbedaan yang shutter speed cepat kipas akan terlihat berhenti tapi gambar agak gelap, dan yang 1 lagi kipas tetap terlihat blur, tapi hasil foto akan lebih terang.

Kenapa gambar yang shutter speed cepat lebih gelap dibanding yg shutter speed lambat? Itu dikarenakan shutter speed cepat masuk cahayanya akan lebih sedikit jika dibandingkan yang shutter speednya lambat. Makanya yang shutter speed cepat, pasti akan lebih gelap. Untuk mendapatkan gambar yang lebih terang tetapi shutter speednya lebih cepat apakah bisa? Bisa dengan memainkan Aperture dan juga ISO.

Aperture

aperture atau bukaan diafragma

Sekarang kita masuk di penjelasan Aperture. Menurut beberapa sumber Aperture itu kerjanya sama seperti pupil mata. Disaat mata membutuhkan penglihatan yang baik di saat gelap, pupil mata akan membesar supaya cahaya bisa masuk lebih banyak ke mata. Jika cahaya terang, maka pupil mata akan mengecil untuk mengurangi cahaya yang masuk.

Aperture sendiri fungsi nya mirip seperti mata yaitu mengatur intensitas cahaya yang masuk ke dalam sensor atau film. Semakin Besar bukaannya dengan ditandai nilai f yang kecil, maka cahaya yang masuk bisa lebih banyak, begitu juga sebaliknya.

Di lensa biasanya kita melihat spesifikasi mungkin bagi kalian yang baru akan bingung untuk membacanya. Misalkan saja ada lensa yang memiliki spesifikasi 17-50mm f/2.8. Berarti bukaan yang dimiliki lensa tersebut adalah yang paling besar 2.8.

Kalau kalian biasa melihat foto yang Bokeh ataupun kita sebut itu yang backgroundnya blur, itu adalah salah satu fungsi daripada bukaan lensa. Semakin besar bukaan diafragmanya, maka background akan semakin blur.

Aperture Berpengaruh Terhadap Depth of Field?

Ini sudah sangat jelas sekali. Bagi yang belum tahu, Depth of Field adalah tingkat ketajaman foto dari obyek yang kalian foto dengan bagian depan atau belakang. Kalau misalnya DOF nya besar, otomatis gambar yang akan dihasilkan lebih tajam ke seluruh foto. Begitu pula sebaliknya. Jadi seperti gw yang bilang di atas, semakin besar f nya yang di tandai dengan nilai angka yang kecil, maka gambar yang di fokus kan akan lebih fokus di banding kan bagian lainnya. Semakin kecil f nya dengan di tandai nilainya yang besar, maka DOF nya akan semakin lebar.

Bunga Bokeh f 2.8
Contoh Foto Dengan Bukaan Aperture Besar

Untuk kecocokan dalam penggunaan Aperture tergantung dari bagaimana kebutuhannya. Tapi kebanyakan untuk foto misalkan saja potrait, orang akan lebih suka menggunakan aperture dengan bukaan besar. Untuk foto lanskap, orang lebih menyukai aperture yang bukaannya kecil karena untuk mendapatkan seluruh detail daripada foto.

Kuncinya dari aperture ini adalah semakin besar bukaannya, maka semakin banyak cahaya yang bisa masuk, dan juga depth of fieldnya semakin sempit. Semakin kecil besar bukaannya semakin sedikit cahaya yang masuk dan semakin luas juga depth of field nya.

ISO

ISO menurut pengalaman pribadi gw adalah salah 1 setingan yang membuat gambar agar bisa lebih terang atau juga lebih gelap. Terang dan gelapnya itu karena nilai dari sensitifnya sensor kamera menangkap cahaya. Biasanya orang yang menggeluti fotografi akan mencari nilai ISO yang paling kecil untuk mengendalikan noise pada gambar yang di potret. Kalau dari beberapa sumber misalkan wikipedia, ISO itu pada intinya sensibilitas daripada sensor untuk menangkap cahaya.

Pada umumnya, iso yang terkecil adalah nilainya 100, dan iso yang besar ada yang sampai 25600 tergantung dari spesifikasi kameranya. Kalau saat ini yang gw pakai Canon 80D, dia punya iso terkecil 100 dan iso terbesar 25600. Mungkin ada berbeda daripada kamera yang kalian punya. Tp pengalaman sampai sekarang ISO yang sebesar misalkan 25600 itu ga pernah terpakai sama gw karena bisa bikin foto noise yang tentunya ga enak di pandang.

contoh foto dengan iso rendah dan tinggi
contoh foto dengan iso tinggi dengan nilai 8000 (kiri )dan iso rendah dengan nilai 1000 (kanan).

Tapi kalau bicara soal noise, itu tergantung juga dari situasi foto yang kita alami yah. Ga mesti melulu pakai ISO 100 biar gambar keliatan lebih bagus. Misalkan aja Fotografi Alam yang mungkin kondisinya sangat kurang cahaya. Dari pada kehilangan momen foto yang bagus, noise bukan jadi hambatan untuk foto. Kalau gw pribadi lebih baik fotonya noise di banding kehilangan momen foto. Tapi jika memungkinkan gunakan selalu iso yang paling rendah karena hasil foto akan lebih bagus kalau pakai iso yang lebih rendah. Selain itu terkadang ada beberapa jenis foto yang sengaja memang dibuat noise demi ngedapetin efek yang lebih dramatis.

Oh iya selain itu ukuran sensor juga katanya sih berpengaruh terhadap noise yang ditimbulkan. Misalnya kalian punya kamera dengan sensor full frame, kalau di bandingkan sama kamera yang punya sensor aps-c, sensor yang fullframe bisa menurunkan tingkat noise di nilai ISO yang sama. Tp gw sih blm praktekin bener-bener karena ga punya kamera full frame sensor. Ga terjangkau soalnya sama kantong ane :D.

Sekarang ini kalau ngomongin sensor banyak sekali ukurannya mulai dari yang kecil misalnya saja sensor kamera handphone sampe ukuran sensor yang sangat besar yang gw tau yang biasa disebut Medium Format. Untuk ukuran Medium Format sensornya. Berikut Keterangan yang gue dapat dari wikipedia tentang image sensor format.

Type Diagonal (mm) Lebar (mm) Tinggi (mm) Area (mm²) Stops (area) Crop factor[34]
1/10″ 1.6 1.28 0.96 1.23 -9.51 27.04
1/8″ 2 1.6 1.2 1.92 -8.81 21.65
1/6″ (Panasonic SDR-H20, SDR-H200) 3 2.4 1.8 4.32 -7.64 14.14
1/4″[35] 4.5 3.6 2.7 9.72 -6.81 10.81
1/3.6″ (Nokia Lumia 720)[36] 5 4 3 12 -6.16 8.65
1/3.2″ (iPhone 5)[37] 5.68 4.54 3.42 15.5 -5.8 7.61
Standard 8mm film frame 5.94 4.8 3.5 16.8 -5.73 7.28
1/3″ (iPhone 5S, iPhone 6, LG G3[38]) 6 4.8 3.6 17.3 -5.64 7.21
1/2.7″ 6.72 5.37 4.04 21.7 -5.31 6.44
Super 8mm film frame 7.04 5.79 4.01 23.22 -5.24 6.15
1/2.5″ (Nokia Lumia 1520, Sony Cyber-shot DSC-T5) 7.18 5.76 4.29 24.7 -5.12 6.02
1/2.3″ (Pentax Q, Sony Cyber-shot DSC-W330, GoPro HERO3, Panasonic HX-A500, Google Pixel/Pixel+) 7.66 6.17 4.55 28.5 -4.99 5.64
1/2.3″ (Sony Exmor IMX220[39]) 7.87 6.3 4.72 29.73 -4.91 5.49
1/2″ (Fujifilm HS30EXR, Espros EPC 660) 8 6.4 4.8 30.7 -4.87 5.41
1/1.8″ (Nokia N8) (Olympus C-5050, C-5060, C-7070) 8.93 7.18 5.32 38.2 -4.5 4.84
1/1.7″ (Pentax Q7, Canon G10, G15) 9.5 7.6 5.7 43.3 -4.32 4.55
1/1.6″ 10.07 8.08 6.01 48.56 -4.15 4.3
2/3″ (Nokia Lumia 1020, Fujifilm X-S1, X20, XF1) 11 8.8 6.6 58.1 -3.89 3.93
Standard 16mm film frame 12.7 10.26 7.49 76.85 -3.49 3.41
1/1.2″ (Nokia 808 PureView) 13.33 10.67 8 85.33 -3.34 3.24
Blackmagic Pocket Cinema Camera & Blackmagic Studio Camera 14.32 12.48 7.02 87.6 -3.3 3.02
Super 16mm film frame 14.54 12.52 7.41 92.8 -3.22 2.97
1″ Nikon CX, Sony RX100 and RX10, Samsung NX Mini 15.86 13.2 8.8 116 -2.9 2.72
1″ Digital Bolex d16 16 12.8 9.6 123 -2.81 2.7
Blackmagic Cinema Camera EF 18.13 15.81 8.88 140 -2.62 2.38
Four Thirds, Micro Four Thirds (“4/3”, “m4/3”) 21.6 17.3 13 225 -1.94 2
1.5″ Canon PowerShot G1 X Mark II 23.36 18.7 14 262 -1.72 1.85
35mm 2 Perf Techniscope 23.85 21.95 9.35 205.23 ? 1.81
Blackmagic Production Camera/URSA/URSA Mini 4K 24.23 21.12 11.88 251 -1.78 1.79
original Sigma Foveon X3 24.9 20.7 13.8 286 -1.6 1.74
RED DRAGON 4.5K (RAVEN) 25.5 23 10.8 248.4 ? 1.66
Super 35mm 2 Perf 26.58 24.89 9.35 232.7 ? 1.62
Canon EF-S, APS-C 26.82 22.3 14.9 332 -1.39 1.61
Standard 35mm film frame 27.2 22 16 352 -1.34 1.59
Blackmagic URSA/URSA Mini 4.6 28.2 25.34 14.25 361 -1.23 1.53
APS-C (Sony a, Sony E, Nikon DX, Pentax K, Samsung NX, Fuji X) 28.2–28.4 23.6–23.7 15.6 368–370 -1.23 1.52–1.54
35mm 3 Perf 28.48 24.89 13.86 344.97 ? 1.51
RED DRAGON 5K S35 28.9 25.6 13.5 345.6 ? 1.49
Super 35mm film 4 Perf 31.11 24.89 18.66 464 -0.95 1.39
Canon APS-H 33.5 27.9 18.6 519 -0.73 1.29
ARRI ALEV III (ALEXA SXT, ALEXA MINI, AMIRA), RED HELIUM 8K S35 33.8 29.9 15.77 471.52 ? 1.28
RED DRAGON 6K S35 34.5 30.7 15.8 485.06 ? 1.25
35mm film full-frame, (Canon EF, Nikon FX, Pentax K-1, Sony a, Sony FE, Leica M) 43.1–43.3 35.8–36 23.9–24 856–864 0 1
ARRI ALEXA LF 44.71 36.7 25.54 937.32 ? 0.96
RED MONSTRO 8K 46.31 40.96 21.6 884.74 ? 0.93
Leica S 54 45 30 1350 0.64 0.8
Pentax 645D, Hasselblad X1D-50c, CFV-50c, Fuji GFX 50S 55 44 33 1452 0.75 0.78
Standard 65mm film frame 57.3 52.48 23.01 1208 0.81 0.76
ARRI ALEXA 65 59.86 54.12 25.58 1384.39 ? 0.72
Kodak KAF 39000 CCD[40] 61.3 49 36.8 1803 1.06 0.71
Medium-format (Hasselblad H5D-60)[41] 67.08 53.7 40.2 2159 1.26 0.65
Leaf AFi 10 66.57 56 36 2016 1.22 0.65
Phase One P 65+, IQ160, IQ180 67.4 53.9 40.4 2178 1.33 0.64
Medium Format Film 6×4.5 70 42 56 2352 1.66 0.614
Medium Format Film 6×6 79 56 56 3136 2 0.538
IMAX film frame 87.91 70.41 52.63 3706 2.05 0.49
Medium Format Film 6×7 89.6 70 56 3920 2.13 0.469
Medium Format Film 6×9 101 84 56 4704 2.33 0.43
Large Format Film 4×5 150 121 97 11737 3.8 0.29
Large Format Film 5×7 210 178 127 22606 4.5 0.238
Large Format Film 8×10 300 254 203 51562 6 0.143

Rekomendasi dari gw untuk Exposure dalam Fotografi

Ini sih menurut pengalaman gw dari praktek dan baca-baca yah. Gabisa di jadikan patokan pasti, tapi mungkin bisa bantu kalian yang baru mulai belajar fotografi macem gw gini dah. Rekomendasi dari gw bakal di jabarin 1-1 di bawah ini mudah-mudahan bermanfaat.

Fotografi Lanskap

  1. Selalu Gunakan Tripod. Fungsinya biar ga goyang saat mau foto, jadi foto lebih fokus dan bagus.
  2. Pakai mode aperture priority. Dimana kalian bisa mengatur aperture sesuai kebutuhan kalian, dan kamera akan secara otomatis mengatur shutter speed yang dibutuhkan.
  3. Set ISO di angka terkecil. Ini supaya gambar ga noise juga karena foto lanskap bakalan bagus banget kalau ga ada noise.
  4. Lebih bagus pakai cable release buat ambil gambar. Supaya gambar ga goyang karena kita pencet tombol.
  5. Matikan mode IS. Disini bagi yang lensanya ada fitur IS sebaiknya jangan digunakan soalnya malah bisa buat foto kurang fokus.

Fotografi Potret atau Potrait

  1. Cari yang paling nyaman dalam pegangan. Mau pakai tripod ataupun monopod juga boleh selama tidak mengganggu.
  2. Pakai mode aperture priority.
  3. Perhatikan Shutter Speed. Karena kalau kelamaan shutter speednya gambar bisa jadi blur karena pergerakan obyek.
  4. Gunakan ISO terendah. Ini tergantung kondisi yah. Kalau memang dibutuhkan kalian bisa naikin isonya.

Fotografi Olah Raga atau Alam Bebas.

  1. Gunakan tangan kosong atau monopod jika di perlukan. Karena kalau pakai tripod bakalan susah untuk bergerak. Jadi bisa jadi kemungkinan besar kalian bakalan kelewatan momen berkat keribetan dari tripod itu sendiri.
  2. Pakai aperture yang terbesar di kamera kalian. Fungsinya supaya obyek bergeraknya lebih jelas karena masuk cahaya lebih banyak
  3. Perhatikan shutter speed yang kalian gunakan. Karena kalau untuk fotografi jenis olah raga ataupun alam bebas dibutuhkan kecepatan dan supaya obyek yang bergerak cepat bisa di tangkap gambarnya dengan baik.
  4. Naikkan ISO. Itu karena shutter speed yang di naikan akan membuat sensor lebih sedikit menangkap cahaya. Tetapi lebih baik noise di banding foto yang di dapat blur.

Rekomendasi Dari Pemula Kaya Gw

Sebagian yang belajar fotografi malu kalau gunakan mode automatic. Menurut gw pribadi, kalian jangan malu dengan mode itu. Karena kita bakalan kehabisan waktu untuk mendapatkan setingan yang tepat dan lebih parahnya bisa kehilangan momen yang bagus. Ga ada salahnya untuk pakai mode automatic. Tetapi kalau memang mau pahamin fungsi-fungsi dari ketiga setingan tersebut, kalian ada bagusnya belajar menggunakan mode manual untuk memahami fungsi daripada aperture, shutter speed, dan juga ISO.

Kesimpulan Dari Artikel Ini

Kesimpulannya adalah teori yang di jabarkan di atas cuma untuk membantu praktek kalian yang baru belajar fotografi. Ga ada nilai yang pasti tentang apa yang gw tulis di atas. Kalian juga bisa improvisasi apa yang kalian senangin di fotografi.

Semoga aja artikel ini bisa membantu kalian deh dalam belajar fotografi. Next gw akan membahas lagi mengenai dasar-dasar fotografi yang lainnya. Semoga kalian terbantu sama apa yang gue tulis disini. Kalau ada masukan dan kesalahan mohon di bantu koreksinya yah :).

admin

Gue adalah seorang yang agak males ribet-ribet dan juga punya sedikit jiwa petualang. gue buat blog ini dengan maksud untuk meng share pengalaman-pengalaman dan juga hobi-hobi yang gue senangin saat ini maupun kedepannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: